SAMBUTAN

Shalom

Pemazmur berkata "Berbahagialah orang yang ... kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Hal ini menyatakan bahwa membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan akan membawa dampak dan pengaruh yang besar dalam kehidupan kita. Dengan kata lain, tidak akan pernah rugi dan sia-sia bila kita membaca, merenungkan dan melakukan firman dalam hidup kita. Sebaliknya, kita akan bertumbuh begitu lebatnya dan menghasilkan buah.

Karena itu, saya mengajak kita semua untuk mempelajari firman Tuhan dengan seksama. Saya yakin, Allah Roh Kudus akan menolong kita sehingga kita bisa mengerti firman-Nya dan dimampukan untuk melakukannya.

Tampilkan postingan dengan label Biblika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biblika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Biblika - YESUS MENOLAK DIPANGGIL TUHAN??? AH, YANG BENAR NIH???

YESUS MENOLAK DIPANGGIL TUHAN??? AH, YANG BENAR NIH???


Matius 7:21
21 ¶  Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.


Apakah Yesus itu Tuhan atau bukan? Itu adalah pertanyaan klasik, yang sudah muncul sejak lama. Ada orang-orang yang menolak ketuhanan Yesus, dan menggunakan ayat-ayat di atas sebagai dasar penolakan mereka, khususnya ayat 21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Mereka menafsirkan bahwa berdasarkan ayat ini, Yesus menolak untuk dipanggil dengan sebutan Tuhan.

Benarkah pendapat ini? Benarkah penafsiran ini?

Untuk memahami ayat ini, mari kita bandingkan dengan satu peristiwa di dalam kitab Maleakhi.  “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (Maleakhi 1:6). Di dalam ayat ini, Tuhan menggambarkan diri-Nya sebagai bapa dan tuan. Perhatikan kalimat ini, “Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu?” Penyebutan Allah sebagai bapa dan tuan tidaklah ditolak oleh Allah. Ia menerima sapaan itu.
Tapi yang menjadi penekanan pada ayat ini adalah konsekuensi logis dari tindakan mereka, yaitu mereka harus menghormati Allah. Jika seorang anak saja bisa menghormati orang tuanya (bapa) atau seorang budak menghormati tuannya (tuan), maka Allah menghendaki agar kita melakukan hal yang serupa kepada Allah. Bahkan kita harus lebih menghormati Allah daripada yang lainnya.


Dengan melihat perbandingan ini, maka dapatlah kita pahami bahwa pernyataan Yesus di dalam Matius 7 di atas memiliki penekanan yang sama dengan di Maleakhi, yaitu menghormati Yesus, bukan tentang penolakan Yesus untuk dipanggil Tuhan. Karena itu, Tuhan Yesus melanjutkan pernyataannya bahwa jika kita memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan, maka konsekuensinya adalah kita harus melakukan kehendak-Nya. 

[pembahasan lebih lanjut, silahkan: http://apologiakristen.blogspot.com/2010/02/yesus-menolak-dipanggil-tuhan.html]

Minggu, 01 September 2013

Biblika - AKU LEMAH, DIA KUAT - Filipi 4:13

AKU LEMAH, DIA KUAT

Filipi 4:13, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

Dalam satu ayat yang singkat ini, ada beberapa kata yang menarik untuk kita perhatikan:
1. “Segala perkara” (panta) menyatakan segala sesuatu. Artinya, bukan hanya hal-hal yang kecil, tapi juga hal-hal yang besar.
2. “Kutanggung” (ischuo) menyatakan memiliki kekuatan atau kemampuan. Jika point 1 dan 2 ini digabung, maka kita akan menyimpulkan bahwa Paulus memiliki kemampuan untuk menghadapi berbagai masalah, baik itu masalah yang kecil, maupun masalah yang besar.
3. “Di dalam” (en) menyatakan bahwa  ini merupakan syaratnya. Kontrasnya adalah “di luar.” Artinya, hanya dengan berada di dalam  maka yang bersangkutan dapat menikmati apa yang dijanjikan.
4. “Memberi kekuatan” (endunamoo) menyatakan bahwa ada Oknum lain yang menjadi menjadi sumber kekuatan itu dan Oknum itu memberikannya kepada orang lain. Artinya, Allah yang menjadi sumber kekuatan dan kekuatan itu diberikan kepada manusia.


Apa yang bisa kita pelajari dari ayat ini?
1. Manusia itu memiliki banyak keterbatasan, dan itu membuatnya tidak sanggup untuk menghadapi banyak pergumulan dalam hidupnya. Keterbatasan fisik: kita bisa sakit. Keterbatasan mental: kita bisa menyerah. Keterbatasan finansial: uang dan tabungan kita bisa habis dan ludes dalam sekejap. Keterbatasan logika: kita bisa stres dan galau. Masih banyak lagi keterbatasan-keterbatasan lainnya. Kita pun tidak sanggup untuk memprediksikan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Keterbatasan ini membuat kita menjadi takut, lemah, lelah, stres, bahkan tidak sanggup lagi untuk berdiri. Dan jika kita mau merenungkan perjalanan hidup kita, maka kita akan mengetahui bahwa bukan hanya masalah-masalah yang besar saja yang bisa melemahkan diri kita, bahkan masalah-masalah yang kecil pun bisa melemahkan diri kita.
2. Allah itu memiliki kuasa yang tidak terbatas, dan itu membuat-Nya sanggup untuk menolong kita dalam menghadapi berbagai pergumulan hidup kita. Tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak sanggup diselesaikan oleh Allah (bahkan dosa pun sudah diselesaikan-Nya). Tidak ada waktu sedetik  pun di mana Allah akan meninggalkan kita. Tidak ada pemeliharaan yang sempurna selain yang dikerjakan oleh Allah. Tidak ada hikmat yang melampaui hikmat Allah dalam mengatur perjalanan hidup kita di masa depan.

Respons: perhatikan kata “di dalam.” Ini menjadi syaratnya bila kita ingin kuat dan mampu menghadapi berbagai pergumulan. Di luar Dia, tidak akan ada kekuatan. Tapi di dalam Dia, pasti akan kekuatan, damai sejahtera dan penyertaan.
1. Belajarlah untuk berserah dan mengandalkan Tuhan dalam segala masalah yang kita hadapi.
2. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh Tuhan.
3. Yakinlah bahwa Tuhan memiliki hikmat yang luarbiasa dalam mengatur dan memelihara hidup kita. 

Rabu, 07 Agustus 2013

Biblika - LATIHLAH DIRIMU BERIBADAH - 1 Timotius 4

LATIHLAH DIRIMU BERIBADAH

1 Timotius 4:7-8
“Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”

Pernah memperhatikan para atlit? Salah satu ciri khas yang melekat pada diri mereka adalah disiplin. Misalnya, mereka disiplin dalam berlatih. Mereka memiliki jadwal latihan yang teratur, sistematis, dan terstruktur.  Selain itu, mereka pun tidak boleh memakan makanan sembarangan dan meminum minuman yang sembarangan, tapi mereka harus memakan makanan yang mengandung gizi dan vitamin yang baik. Mereka juga harus memiliki jadwal istirahat yang cukup sehingga kondisi fisik mereka tetap fit.
Apabila mereka melanggar hal-hal itu, bisa berakibat pada kemampuan mereka saat bertanding. Mereka tidak bisa bertanding dengan maksimal, sebaliknya, mereka bisa kalah.
Rasul Paulus menegaskan pada Timotius agar “latihlah dirimu beribadah” (ayat 7b). Kata “latih” berasal dari kata “gumnazo” (dari kata inilah gym digunakan). Kata ini memiliki kesamaan arti dengan kedisiplinan yang dimiliki oleh seorang atlit.
Itu berarti, seorang anak Tuhan haruslah memiliki disiplin rohani yang baik. Ia harus melakukan hal-hal yang mendukung pertumbuhan rohaninya, tapi harus membuang hal-hal yang bisa menghalangi pertumbuhan imannya.
Berdasarkan konteks ayat ini, maka kita melihat bahwa kita harus “terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.” Ini berarti kita harus memiliki komitmen untuk mempelajari firman Tuhan dengan baik.
Paulus juga mengingatkan bahwa disiplin ini akan membawa keuntungan bagi kehidupan kita, “ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Jika latihan badani membawa keuntungan bagi fisik kita, maka latihan rohani juga akan membawa keuntungan bagi kerohanian kita.
Karena itu, bukanlah suatu kerugian bila kita memiliki disiplin rohani yang baik, melainkan akan membawa keuntungan bagi diri kita.


Jumat, 02 Agustus 2013

Biblika - MENGHORMATI PERNIKAHAN - Ibrani 13:4

MENGHORMATI PERNIKAHAN

Ibrani 13:4 - Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.

Pernyataan “kamu semua” menyatakan bahwa setiap orang, tanpa ada pengecualian. Hal ini menyatakan dengan tegas bahwa setiap orang , tanpa ada pengecualian, haruslah menghormati pernikahan. Tidak boleh ada yang merusak pernikahan, dan jika berdasarkan konteks ayat, maka yang dimaksud adalah perzinahan. Itu sebabnya, firman Tuhan melanjutkan agar “janganlah kamu mencemarkan tempat tidur.”
Dari sini, kita bisa menarik dua implikasi:
1.        Setiap orang yang dimaksud adalah orang yang sudah menikah. Itu berarti, orang-orang yang telah menikah haruslah menghormati pernikahannya sendiri dan pernikahan orang lain. Orang yang sudah menikah tidak boleh mempermainkan atau merusak pernikahan sendiri. Begitu juga, ia pun tidak boleh merusak pernikahan orang lain.

2.       Setiap orang yang dimaksud adalah orang yang belum atau tidak menikah. Itu berarti, orang-orang yang belum atau tidak menikah tidak boleh menganggu rumah tangga orang lain, menggoda orang yang sudah berkeluarga. 

Biblika - YESUS TUHAN DALAM HIDUPKU - 1 Petrus 3:15

YESUS TUHAN DALAM HIDUPKU

1 Petrus 3:15 - Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

Dalam bahasa Yunani, kata kudus berasal dari kata a`gia,zw (hagiazo). Kata ini memiliki 2 arti, yakni (1) murni, suci, tidak berdosa; (2) memisahkan, mengkhususkan atau membedakan dari yang  lain. Kalau melihat dari penggunaan kata ini dalam ayat ini, maka pengertian yang kedualah yang tepat. Jika demikian, maka kita harus menempatkan Yesus di dalam hati kita di tempat yang istimewa.
Bukan sekedar dikhususkan, tapi Petrus mengajarkan agar Yesus berada di tempat yang paling tinggi di dalam hati kita, yakni sebagai Tuhan. Kata Tuhan berasal dari kata ku,rioj (kurios), yang memiliki arti sebagai penguasa, pemilik atau pemegang otoritas tertinggi. Itu berarti, Yesuslah yang menjadi penguasa, pemilik dan pemegang otoritas yang tertinggi di dalam hidup kita.
Jika demikian, maka kita akan menemukan beberapa implikasi:
1.        Oleh karena Yesus sebagai penguasa dalam hidup kita, maka kita harus tunduk pada perintah dan peraturan yang telah ditetapkan-Nya.
2.       Oleh karena Yesus sebagai pemilik dalam hidup kita, maka segala sesuatu yang kita punya adalah milik-Nya.
3.       Oleh karena Yesus sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam hidup kita, maka Ia yang akan mengatur masa depan hidup kita.

  

Senin, 29 Juli 2013

Bapa, Ke Dalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawaku!

Bapa, Ke Dalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawaku!

Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong
Tidak mungkin seseorang tidak akan berbahagia, ketika ia mengingat kematian Kristus, mengerti akan kasih-Nya, dan membagi-bagikan kasih Kristus kepada sesama. Tidak ada seorang pun yang tidak berbahagia, karena ia dapat dengan sungguh-sungguh melayani Kristus yang sudah mati dan bangkit dengan pengabdian yang penuh. Firman Tuhan adalah sumber kekuatan dan satu keajaiban yang memberikan iman yang sejati.
Kegenapan yang digenapkan Yesus Kristus adalah kegenapan yang bersifat paradoks. Menurut pandangan manusia, Kristus tidak menggenapkan apa-apa, Kristus tidak menyukseskan apa-apa, dan Kristus tidak menghasilkan apa-apa. Menurut manusia, seseorang yang bergantung di atas kayu salib tidak memiliki kesuksesan ataupun keunggulan apa pun. Akan tetapi, dari permulaan kitab suci sampai pada akhirnya, kita dididik oleh Tuhan Allah untuk tidak melihat segala sesuatu secara lahiriah. Allah mendidik kita untuk tidak melihat segala sesuatu hanya dengan pandangan mata lahiriah yang sudah ditipu oleh iblis. Biarlah kita memiliki pandangan seperti pandangan Tuhan Allah sendiri yang melihat sampai ke batin. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati sanubari (1 Samuel 16:7). Bagi manusia, Kristus dilihat sebagai manusia yang tidak memiliki keunggulan ataupun kesuksesan, tetapi sebagai manusia yang gagal. Namun, Yesus Kristus yang kelihatan gagal adalah Yesus Kristus yang meneriakkan perkataan, "Tetelesthai! Genaplah!"
Apakah yang telah digenapkan-Nya? Apakah Dia sudah mendirikan satu gedung yang besar? Sekolah Kristen yang mewah? Buku Kristen yang tebal? Sistem pendidikan yang baru? Sistem filsafat yang melawan sistem filsafat yang lain? Tidak. Tetapi apa yang digenapkan Yesus Kristus di atas kayu salib adalah apa yang tidak mungkin digenapkan oleh politik, militer, ekonomi, kebudayaan, pendidikan, filsafat, dan segala ilmu dunia. Di dalam perkataan Kristus yang ke-6, manusia boleh melemparkan jangkar pengharapannya. Manusia boleh mengembuskan napas yang terakhir dengan satu jaminan yang pasti. Genaplah!
Kristus mengucapkan, "Genaplah!" dengan satu kepastian yang sungguh. Perkataan ini menembus dunia malaikat dan mencengangkan mereka, menembus dunia manusia dan memberi pengharapan terbesar kepada mereka, menembus alam maut dan menggoncangkan neraka.
Jika Tuhan mengatakan "Gagallah!" maka meskipun Dia bangkit, kita tidak mengetahui dalam hal apa Dia menjanjikan jaminan keselamatan. Akan tetapi, karena Tuhan Yesus mengatakan "Genaplah!" maka inilah jaminan yang pasti akan kebangkitan kita! Tidak ada seorang pun pernah memiliki kegagalan secara lahiriah lebih dari apa yang dinyatakan Yesus, Orang Nazaret yang tergantung di atas kayu salib. Namun sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang pernah mencapai kemenangan, kesuksesan, dan keunggulan yang lebih besar dari apa yang pernah dinyatakan Yesus Kristus yang mati terpaku semacam itu. Di atas kematian Yesus Kristus ada satu perubahan atau transformasi yang besar atas segala konsep, sistem, dan segala arah di dalam alam semesta. Arah manusia berdosa yang menuju kepada neraka karena melawan Tuhan Allah harus berubah di muka kayu salib. Segala sistem yang lama harus berubah menjadi sistem yang baru, menurut arah sinar cahaya yang keluar dari takhta Allah dan Anak Domba yang pernah disembelih di atas Golgota.
Pada waktu Yesus Kristus mengatakan "Tetelesthai!", maka terbelahlah tirai yang memisahkan tempat suci dan tempat maha suci di bait Allah dari atas sampai ke bawah. Bukan tangan manusia yang melakukannya, bukan pisau atau gunting, tetapi kuasa Allah sendiri yang menjalankan hal ini. Di dalam keempat Injil dicatat bahwa sebelum Kristus mati, Ia mengucapkan perkataan dengan seruan yang nyaring, suara teriakan yang keras. Jelas bagi kita bahwa itu adalah hal yang tidak logis, di luar logika. Orang yang disalibkan diperkirakan akan mati dalam 2 - 4 hari. Dan sejak hari pertama disalibkan, orang tersebut akan mengalami satu gejala yang tidak akan berubah sampai beberapa hari kemudian. Gejala itu timbul karena banyaknya darah yang mengalir keluar dari tubuh orang yang disalibkan. Darah yang berkurang akan makin mengental dan darah yang menuju ke bagian kepala akan berbeda jumlahnya dengan darah yang beredar di bagian tubuh yang lebih bawah. Lambat laun, karena kekurangan darah yang naik ke atas kepala, maka belum sampai satu hari, semua kekuatan di leher orang tersebut akan lenyap, sehingga orang yang disalibkan harus menundukkan kepala.
Gejala kekaburan atau kepusingan juga akan dialami tetapi orang tersebut belum akan mati. Belum mati, tetapi tidak akan mungkin hidup lagi seperti biasa. Tubuh akan menggetar, makin lama makin lemah dan manusia yang disalibkan akan mati secara perlahan. Detik demi detik ia akan mati dalam kekejaman dan kesulitan yang tidak mungkin ditolak. Lebih mudah mati digantung, ditembak, kursi listrik, atau dipenggal dibandingkan mati disalib. Beratnya tubuh yang tergantung mengakibatkan lubang paku menjadi besar dan untuk menjaga supaya seluruh tubuh tidak jatuh, maka orang tersebut diikat pada kaki dan tangannya. Akan tetapi, tali tersebut justru mengakibatkan kematian yang pelan-pelan karena darah yang mengalir keluar tertahan oleh ikatan tali. Orang yang menyalibkan orang lain adalah orang yang suka melihat orang lain mati secara perlahan. Di dalam kondisi semacam itu, hanya Kristus satu-satunya yang berbeda dengan orang lain. Sebelum mati, Ia menengadah dan berkata kepada Allah dengan kekuatan yang luar biasa. Suara-Nya nyaring dan dengan teriakan, khususnya pada waktu mengatakan empat perkataan terakhir.
Pada saat orang normal tidak bisa berteriak karena tidak mampu, justru saat itu Kristus berteriak dengan keras. Sesudah enam jam disalibkan, siapakah yang bisa berteriak? Sesudah mengatakan "Genaplah!", maka tirai di bait suci terbelah. Lalu Kristus mengatakan kalimat terakhir, "Bapa, Aku menyerahkan jiwa-Ku ke dalam tangan-Mu!" Setelah itu, Dia mengembuskan napas yang terakhir. Ini satu mujizat. Ini satu hal yang luar biasa. Ini satu hal yang sama sekali berbeda dengan tradisi dan catatan sejarah. Kristus satu-satunya yang menyerahkan nyawa-Nya di dalam kekuatan yang luar biasa. Jiwa Kristus bukan dirampas oleh kematian. Pada waktu hidup-Nya, Kristus dirampas. Keadilan bagi-Nya dirampas, hak-Nya dirampas, pembelaan-Nya dirampas, dan kebajikan bagi-Nya pun dirampas. Manusia tidak memedulikan bahwa dengan tangan-Nya, Kristus menyembuhkan orang lain. Tangan yang menyembuhkan orang lain dipakukan. Kepala-Nya yang memikirkan firman Allah dan hal-hal ilahi dimahkotai mahkota duri. Kaki yang berjalan ke sana kemari mencari domba yang sesat adalah kaki yang ditusuk. Tuhan Yesus memiliki cinta yang tidak ada bandingnya. Tuhan Yesus Juru Selamat satu-satunya. Pada waktu disalibkan, Ia mengucapkan kalimat yang terakhir, "Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu!"
Ucapan Kristus di atas kayu salib dimulai dengan "Bapa..." dan diakhiri dengan "Bapa..." Ini menjadi satu elemen paling pokok bagi pelayanan kita. Di atas kayu salib, Yesus Kristus tidak berkata banyak kepada manusia. Bagi Kristus yang penting adalah satu kesetiaan kepada Bapa. Yang mengutus Kristus adalah Bapa, dan yang akan menerima Kristus kembali ke sorga juga adalah Bapa. Jikalau yang memanggil Yesus Kristus adalah uang, maka Dia akan melayani uang. Akan tetapi, karena yang memanggil Kristus adalah Bapa, maka Kristus memiliki prinsip yang memulai pelayanan-Nya dengan Bapa dan mengakhirinya juga dengan Bapa. Allah Bapa yang memulai, Allah Bapa juga yang menjadi Penggenap. Bapa yang menciptakan segala sesuatu terjadi dan segala sesuatu ini juga akan disempurnakan oleh Bapa yang mengizinkan segala sesuatu ini terjadi. "The Creator is also The Consummator". Allah yang mengerjakan pekerjaan kebajikan adalah Allah yang akan menggenapi pekerjaan kebajikan itu. Dan, Kristus yang telah diutus oleh Allah mengetahui bahwa Dia tidak boleh hidup untuk diri-Nya sendiri.
Sebagaimana apa yang pernah didoakan dan dinyatakan Kristus dalam ucapan yang agung di Getsemani, "Bapa, bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42), demikian pula di atas kayu salib, Kristus mengucapkan tujuh kalimat yang menunjukkan relasi vertikal antara Dia dengan Allah Bapa. Kalimat pertama adalah "Ya, Bapa, ampunilah mereka ...", kalimat terakhir adalah "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku!" Kristus memohonkan pengampunan bagi manusia berdosa kepada Bapa dengan kematian-Nya. Kristus yang mati bagi manusia menurut kehendak Bapa sekarang menyerahkan jiwa-Nya kepada Bapa. Perkataan pertama dimulai dengan "Bapa", perkataan terakhir diakhiri dengan "Bapa". Tetapi perkataan keempat yang ada di bagian tengah adalah "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Di tengah-tengah antara Alfa sampai Omega, ada lembah bayang-bayang maut.
Pada permulaan, dengan girang kita menjalankan kehendak Allah. Di saat terakhir, relakah kita menyerahkan seluruh hidup kepada Allah? Di tengah-tengah perjalanan panjang kehidupan, Allah mengizinkan orang yang menjalankan kehendak-Nya untuk mengalami bayang-bayang maut yang menakutkan. Lembah bayang-bayang maut adalah lembah yang pernah dijalani Kristus secara sendirian. Saat itu Bapa tidak mendampingi Dia. Kristus menjalaninya sendiri. Itulah sebabnya, sejak hari itu, barangsiapa harus menjalani bayang-bayang maut boleh berkata kepada Tuhan Yesus, "Engkau beserta dengan aku." Kristus sudah menjalani jalan itu. Apakah Anda takut akan hari depan? Bagi Kristus, hari depan kita adalah hari kemarin. Pada waktu Kristus mengatakan "Genaplah!" dan "Ya, Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku!", janganlah kita lupa bahwa mengatakan hal seperti itu memerlukan iman kepercayaan yang bukan main besarnya.
Pada waktu Yesus dibaptiskan, Allah Bapa bersaksi dengan langit yang terbuka dan suara yang nyaring, "Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Lukas 3:22) Pada waktu di bukit Hermon, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan beserta dengan Musa dan Elia, Allah sekali lagi berkata dari langit, "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." (Lukas 9:35) Namun, justru di dalam kepicikan, kepedihan, dan sengsara yang paling besar yang dialami Kristus di atas kayu salib, Allah seolah-olah menudungi muka-Nya dan seakan-akan tidak melihat akan sengsara Yesus Kristus.
Saat Yesus berteriak, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" adalah saat yang sungguh-sungguh mengerikan. Akan tetapi, pada waktu Yesus mengatakan "Sudan genap!", Yesus mengatakannya di dalam keadaan yang tidak berubah apa-apa. Dia tetap tergantung di atas salib. Tidak ada pertolongan dari Allah. Orang-orang di bawah salib menunggu apakah pertolongan dari Allah akan datang. Orang-orang pernah mendengar bahwa pada waktu Kristus berdoa di bukit Hermon, Elia dan Musa datang mendampingi Dia. Jadi, sekarang mereka menantikan apakah hal itu akan terulang lagi. Tetapi kondisi tidak berubah. Doa Kristus seakan-akan tidak dijawab. Kesulitan seolah-olah makin menjadi besar. Kelemahan makin menjadi nyata. Darah terus mengalir. Segala sesuatu makin menjadi gelap. Orang-orang di bawah salib tetap menghinakan Dia. Dengan demikian, apakah kesuksesan yang dinyatakan Kristus dengan perkataan "Genaplah"? Apakah yang dinyatakan-Nya dengan perkataan "Ya, Bapa, Aku menyerahkan Roh-Ku ke dalam tangan-Mu"?
Dengan melihat Kristus, kita melihat manusia pertama di dalam sejarah yang menerjunkan diri ke dalam kekekalan -- dalam keadaan yang tanpa kegentaran sama sekali. Kristus yang sudah menang memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan. Dia menjadi teladan bagi Anda dan saya. Betapa banyak orang yang pada waktu hidupnya memiliki keberanian, tetapi pada waktu menghadapi kematian, segala keberaniannya hilang sama sekali. Namun Kristus, di dalam kalimat terakhir sebelum mengembuskan napas-Nya yang terakhir, memberi contoh bagi kita. Jikalau segala kepicikan belum berubah, kepedihan masih dialami, bahaya masih mengancam, dan segala situasi tetap sama, padahal saat kematian kita semakin mendekat, bisakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita? Apakah Allah tetap menjadi Bapa kita? Apakah dari dulu sampai sekarang Dia tetap menjadi Bapa Anda? Apakah kita tetap bisa melihat anugerah-Nya tetap mengelilingi kita? Jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, hanya karena kita sudah menikmati segala berkat dari-Nya, bagaimana jika semua berkat sudah tidak ada lagi? Bagaimana jika segala yang indah sudah hilang dan segala kepicikan kita alami? Apakah kita tetap memanggil Allah sebagai Bapa kita pada detik terakhir sebelum kita mati? Apakah Anda masih bisa memanggil Bapa? Apakah doa Anda masih didengarkan oleh-Nya? Ya. Karena Yesus Kristus menjadi teladan kita. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku."

Sumber: 
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku
:
7 Perkataan Salib
Judul artikel
:
Ya, Bapa ke dalam tangan-mu Kuserahkan nyawa-Ku
Penulis
:
Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit
:
Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1992
Halaman
:
133 – 140